Tuhan memang menciptakan manusia berbeda-beda. Sebagian ada yang terlahir dengan keterbatasan seperti tidak bisa mendengar alias tuli atau tunarungu. Lalu bagaimana gereja bisa menjangkau mereka yang tuli dengan kabar baik tentang injil Kristus? Sementara Kabar Baik tentang Kristus harus diberitakan kepada seluruh makhluk, termasuk komunitas tuli. Kabar baik tersebut bisa diterima oleh mereka dengan mengomunikasikannya melalui bahasa asli mereka yaitu bahasa isyarat.

Adalah Edik Widodo, salah seorang juru bahasa isyarat, mengatakan bahwa gereja sudah sepatutnya menyediakan akses bagi mereka yang tuli untuk bisa mendengarkan kabar baik itu. “Dengan kemudahan teknologi sekarang ini, lewat video, setiap institusi gereja seharusnya bisa menyediakan video dalam bahasa isyarat yang bisa menerjemahkan khotbah, renungan, atau acara tentang kekristenan. Rata-rata gereja saat ini sudah memiliki website dan dibantu kanal di Youtube.Teman-teman tuli itu juga pasti akan sangat senang jika merasa diperhatikan,” kata Edik saat menjadi penerjemah di acara Seminar Islamologi yang digelar Persekutuan Jalan Lurus (PJL) bertajuk “Perjumpaan Islam dan Kristen” di GKRI DCC, Thamrin City, Sabtu (24/8/2019).

Di sela-sela aktivitasnya membantu para tuli peserta seminar, Edik mengatakan, dirinya memiliki kerinduan besar sejak dulu agar ada keterlibatan gereja yang memulai pelayanan untuk para jemaat yang tuli. “Saya bahkan, sudah pernah mengirimkan surat kepada beberapa pendeta terkenal di Indonesia supaya video khotbahnya diterjemahkan dalam bahasa isyarat, tetapi sampai sekarang masih belum direspons,” ujarnya.

Edik Widodo (kanan), Sumber: Instragram (Dok Pribadi)

Edik Widodo sudah melanglangbuana dalam urusan menjadi penerjemah bahasa isyarat. Berawal dirinya pernah bertugas di TVRI. Wajahnya juga cukup familiar di layar Metro TV dan sejumlah stasiun televisi nasional lainnya. Ia juga berperan sebagai juru bahasa isyarat pada acara debat pemilihan presiden beberapa waktu lalu.

Ada beberapa kode etik yang harus diperhatikan ketika bekerja menjadi interpreter, seperti tidak boleh berpihak. “Biasanya, juru bahasa isyarat harus disumpah sebelum menjalankan tugasnya,” kata Edik.

Jika ada kata yang asing dan tidak dimengerti, kata Edik, dirinya mengeja kata tersebut tanpa memberikan artinya, kecuali jika yang bicara menerangkan artinya.

“Ada pengalaman saat cawapres 01 menutup debat, dia mengucapkan kalimat bahasa Arab. Karena tidak ada terjemahannya dan saya juga tidak mengerti, saya hanya diam dan memberikan isyarat bahwa yang diucapkan beliau barusan adalah bahasa Arab,” kata Edik.

Juru bahasa isyarat juga selalu menggunakan jas berwarna hitam atau warna yang kontras dengan warna tangan saat menjalankan tugas sesuai dengan standar internasional.

Data menunjukkan, dalam Pilpres 2019, pemilih dari kaum tuli tercatat 68.246 jiwa dari total 363.200 pemilih disabilitas. “Dengan demikian, seharusnya tidak ada alasan lagi bagi gereja untuk tidak melayani kaum tuli agar mereka juga menerima keselamatan dari kematian Yesus di kayu salib,” pungkas Edik.

CategoryDiakonia
Tags,
Write a comment:

*

Your email address will not be published.

Follow us: